Rangkuman Seminar Entomologi, Tanggal 24-25 Januari 2012

Seminar hari pertama dipaparkan tentang:

  1. Sebagai keynote speaker tentang pentingnya Entomologi dalam Perdagangan Global oleh Dr. Bayu Krisnamurti, Wakil Menteri Perdagangan.
  2. Perdagangan bebas oleh Dr. Antarjo Dikin dari Badan Karantina Pertanian, Kementrian Pertanian
  3. Entomologi Kesehatan oleh dr. Rita Kusriastuti, MSc dari Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Kementrian Kesehatan
  4. Kebijakan Pestisida, oleh Ir. Suprapti, MM dari Direktorat Pupuk dan Pestisida, Kementrian Pertanian.

Rumusan:

  1. Perekonomian Indonesia pada saat ini telah dinilai cukup baik, termasuk rangking ke 16 dari 20 negara ekonomi tinggi. Penghasilan per kapita sudah mencapai 3.250-3.500 US $ per annum. Laju pertumbuhan supermarket merupakan ranking kedua setelah RRC dan kebutuhan beras yang merupakan makanan pokok mencapai 38 juta ton per tahun. Dengan situasi perekonomian dunia seperti tersebut, maka diperlukan:

    a. Peningkatan daya saing,
    b. Peningkatan Perlindungan melalui SPS,
    c. Menggali peluang baru.

    Untuk mencapai tiga butir diatas (a, b, dan c), diperlukan peran entomologiwan dalam jumlah yang banyak. Sebagai jalan keluarnya adalah dengan cara: a) mengetahui peta kekuatan SDM bidang entomologi, b) Dibangun jejaring dan kemitraan antar entomologiwan dan bidang disiplin lainnya, c) Meningkatkan komunikasi, sosialisasi dan advokasi tentang peran entomologi, dan d) menjaga integritas, kapasitas dan profesionalisme.

  2. Dalam era perdagangan global untuk memenuhi persyaratan SPS dan negosiasi diperlukan pemahaman tentang entomologi, karena ekspor dan impor semua produk termasuk kemasan dan kontainer wajib bebas hama. Oleh karena itu untuk menjamin keselamatan ekspor dan impor diperlukan entomologiwan yang terakreditasi dalam jumlah yang banyak. Keberadaan dan peran National Plant Protection Organization (NPPO) Indonesia yqang dikoordinir oleh Badan Karantina Pertanian agar dioptimalkan sebagai media komunikasi para profesional di bidang OPT khususnya serangga. Untuk memberikan dukungan tersebut sangat diperlukan peran entomologiwan dan PEI.
  3. Penyakit tular vektor (PTV) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia seperti: malaria, DB/DBD, lymphatic filariasis, leptospirosis chikungunya, Japanese B encephalitis, pes, dan penyakit bersumber binatang lainnya. Jumlah dan kualitas entomologiwan kesehatan di Indonesia masih jauh dari kebutuhan. Sebagai contoh, dari 7000 Puskesmas (D3) belum tersedia assisten entomologi kesehatan, disamping itu juga masih diperlukan S1 bidang entomologi kesehatan sebanyak 500 orang, dan S2 50 orang. Kementrian kesehatan telah menyediakan bea siswa untuk tugas belajar, namun belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dengan PEI.
  4. Pestisida dan pupuk kimia masih merupakan tumpuan dalam pengendalian hama dan penyakit untuk meningkatkan produksi dan ketahanan pangan. Walaupun disadari bahwa penggunaan bahan kimia berdampak terhadap kualitas lingkungan, dan kebutuhan pestisida berkisar antara 5,3- 5,8 ton per tahun. Pestisida yang digunakan di Indonesia terdiri dari herbisida sebanyak 37%, insektisida 41%, fungisida 21 %, dan lain-lain termasuk insektisida rumah tangga 1%. Mengingat penggunaan insektisida masih cukup tinggi, maka entomologiwan sangat diperlukan untuk memberikan pengawalan penggunaannya. Untuk meningkatkan pengawalan kebijakan pestisida di Indonesia, maka diperlukan kontribusi PEI.

RANGKUMAN SEMINAR ENTOMOLOGI HARI KEDUA, TANGGAL 25 Januari 2012

Seminar hari kedua dipaparkan tentang :
1. Pengelolaan Informasi Hama dan Penyakit untuk Perlindungan Tanaman oleh Dr. Purnama Hidayat, Departemen Proteksi Tanaman, IPB, Bogor. 2. Pendidikan Entomologi oleh Prof. Dr. Edhi Martono, Fakultas Pertanian, UGM, Yogyakarta. 3. Serangga Polinator dan Konservasi Lebah Madu oleh Dr. Ir. Budi Tjahjono, RAPP, Riau.

Rumusan:

  1. Dalam era informasi + globalisasi, makin dirasa pentingnya keberadaan database HPT yang dapat secara cepat diakses masyarakat. “opete” adalah software yang dikembangkan sebagai database hama dan penyakit tanaman pangan bertujuan untuk merangkum berbagai jenis informasi mutakhir. Sofhware ini harus dikelola dan senantiasa diperbaharui. Oleh karena itu, keberadaannya sangat ditentukan oleh keikutsertaan para ahli diagnostic dan pengelola yang aktif memperharui informasi yang tersedia. Sistem pengelaolaan informasi yang terintegrasi adalah prasyarat bagi berhasilnya pembangunan data base ini.
  2. Keberadaan ahli entomologi sangat diperlukan agar data base “opete” dapat diterima sebagai bahan acuan yang kredibel untuk itu pendidikan entomologi adalah sangat penting untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Pendidikan formal dan informal merupakan dua strategi pendekatan yang dapat dijalankan untuk menghasilkan ahli-ahli profesi entomolog dan juga menghasilkan entomolog amatir. Pendidikan entomologi harus mencakup keilmuan dasar maupun ilmu-ilmu terapan yang juga dapat memecahkan masalah-masalah di lapangan. Pendidikan entomologi harus bisa menghasilkan orang-orang yang dapat mengapresiasi manfaat dan keberadaan serangga bagi manusia.
  3. Salah satu manfaat serangga yang juga tertera dalam Al Qur’an adalah lebah. Lebah sebagai serangga pollinator memegang posisi penting bagi pertanian Indonesia. Contohnya, kelapa sawit yang sangat tergantung pada satu pollinator eksotik, Eladiopilus sp. Pusat studi pollinator dan lebah adalah institusi yang memfokuskan penelitian pada konservasi lebah di alam. Pohon Sialang merupakan pohon dimana sarang-sarang lebah dapat dibangun perlu dijaga kelestariannya. Keberadaa lebah-lebah ini penting agar produksi madu Indonesia dapat ditingkatkan, karena saat ini Indonesia masih jauh di bawah kapasitas lima negara-negara ASEAN lainnya. Untuk itu konsumsi lebah dalam landscape yang beragam menjadi penting.

RANGKUMAN SEMINAR ENTOMOLOGI PRESENTASI ORAL dan POSTER, TANGGAL 24-25 Januari 2012

1. Dipresentasikan sebanyak 139 makalah, terdiri dari:

  • a. Taksonomi dan biologi serangga (8 makalah),
  • b.Ekologi serangga hama (38 makalah),
  • c. Ekologi – Keragaman serangga (2 makalah),
  • d. Fisiologi, Toksikologi dan Biologi molekuler (13 makalah),
  • e. Pengendalian serangga hama dengan musuh alami (31 makalah),
  • f. Pengendalian serangga hama dengan pestisida nabati dan semiokimia (23 makalah),
  • g. Komponen PHT selain musuh alami dan pestisida nabati (24 makalah).

2. Makalah poster yang ditampilkan sebanyak 41 judul makalah.

Tim Penyusun:

  1. Yayuk R. Hardjono
  2. Supratman Sukowati
  3. Damayanti Buchori
  4. Pudjianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *